MEDAN
Tak ada tanda perpisahan. Tak ada pesan terakhir.
Nama Eva Andriyani tiba-tiba berhenti di antara percakapan para jurnalis—menyisakan sunyi yang tak mudah dijelaskan.
Perempuan yang selama ini hidup di antara kata, berita, dan empati itu telah berpulang.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kabar duka itu sampai pada Selasa, 23 Desember 2025. Disampaikan dengan suara yang berat oleh Antonius Rudiyanto, adik almarhumah, kepada jurnalis Medan Aswani Hafit.
Eva telah lebih dulu pergi pada Selasa, 16 Desember 2025. Tubuhnya menyerah setelah lama bertahan melawan komplikasi penyakit jantung, paru-paru, dan ginjal.
Bagi banyak orang, Eva adalah nama di balik media.Bagi rekan-rekannya, ia adalah tempat pulang setelah lelah.
Di ruang-ruang redaksi yang sunyi, Eva dikenal sebagai sosok yang tak banyak meninggi suara, tapi selalu hadir ketika dibutuhkan. Ia menyimak, menimbang, lalu menulis—dengan hati-hati.
Kata-kata baginya bukan sekadar alat kerja, melainkan tanggung jawab moral.
“Almarhumah adalah teman bertukar narasi, teman berbagi beban, dan teman saling menguatkan,” ujar Aswani Hafit. Kalimat itu berhenti sejenak—seolah kehilangan tenaga untuk diteruskan.
Eva tidak hanya mengabdi pada berita. Ia percaya, jurnalisme harus menyentuh manusia. Di sela kesibukan redaksi AnekaFakta.com, ia terlibat dalam kegiatan sosial: menyantuni janda, menjangkau mereka yang sering luput dari kamera dan tajuk utama. Ia memilih jalan sunyi—memberi tanpa banyak bicara.
Kini, jalan itu terhenti.
Tak ada lagi diskusi panjang di balik layar. Tak ada lagi pesan singkat yang tiba-tiba masuk hanya untuk bertanya, “Sudut pandangnya sudah pas?” Yang tersisa adalah kenangan tentang ketulusan, dan kesadaran yang menyesakkan: bahwa hidup bisa berhenti kapan saja, bahkan ketika niat baik masih panjang.
Kepergian Eva Andriyani menyisakan duka yang tak gaduh, tapi dalam. Duka yang merambat pelan—seperti tinta yang jatuh ke kertas basah, lalu menyebar tanpa bisa ditarik kembali.
Doa-doa pun mengalir, lirih.
Ya Allah, ampuni ia.
Rahmati ia.
Lapangkan kuburnya.
Terimalah setiap kebaikan yang pernah ia titipkan lewat kata dan perbuatan.
Eva telah pulang.
Dan dunia jurnalistik kehilangan satu suara yang memilih berbicara dengan hati.(***)

























