Aceh Tenggara – Pembangunan jembatan Mbarung–Kedataran di Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara mengalami gangguan serius setelah jembatan darurat di lokasi proyek tersebut dilaporkan terbakar pada Sabtu malam (1/11). Insiden ini terjadi di tengah proses pekerjaan fisik yang sedang berlangsung di bawah pelaksana CV Karya Abadi, dengan nilai kontrak proyek sebesar Rp7,8 miliar.
Kebakaran yang diduga dilakukan oleh orang tak dikenal itu menyebabkan bagian jembatan darurat terputus sepanjang kurang lebih dua meter, sehingga mengganggu lalu lintas internal proyek serta akses keluar-masuk kendaraan berat.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Tenggara, Sujarno, ST, membenarkan terjadinya insiden. Dalam keterangannya, ia menyatakan bahwa laporan awal diterima dari petugas keamanan proyek pada Minggu pagi (2/11), sekitar pukul 06.00 WIB.
“Kami mendapat laporan dari pihak keamanan bahwa jembatan darurat di lokasi proyek telah terbakar. Tim segera turun ke lokasi untuk melihat langsung kondisi terakhir,” ungkap Sujarno.
Ia menambahkan bahwa pengamanan di lokasi akan diperketat sebagai bentuk antisipasi terhadap gangguan serupa. Petugas keamanan yang bertugas telah diminta untuk melakukan patroli secara lebih intensif, terutama pada malam hari saat lokasi proyek tidak aktif.
Meski penyebab pasti masih diselidiki, informasi dari lapangan menyebutkan bahwa kebakaran tersebut kemungkinan terkait dengan masalah internal proyek, salah satunya soal penggunaan lahan untuk keperluan camp kerja. Namun demikian, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang mengenai motif kejadian.
Pantauan di lokasi menunjukkan jembatan darurat yang hangus di beberapa bagian, dengan konstruksi papan yang gosong dan tidak lagi bisa dilalui. Kondisi ini membuat aktivitas proyek melambat, terutama dalam mobilisasi material konstruksi.
Proyek jembatan Mbarung–Kedataran merupakan salah satu bagian dari infrastruktur strategis di Aceh Tenggara yang bertujuan membuka akses antarwilayah, meningkatkan konektivitas desa ke pusat kecamatan, serta memperlancar jalur distribusi hasil pertanian dan perkebunan warga.
Hingga kini belum ada kepastian apakah kejadian ini akan memengaruhi target penyelesaian proyek. Namun pihak Dinas PUPR menyatakan masih mengkaji dampak kerusakan yang terjadi, termasuk langkah-langkah taktis untuk percepatan pemulihan di lapangan.
Aktivitas proyek sementara disesuaikan sambil menunggu perbaikan jembatan darurat dilakukan. Pemerintah daerah dan pelaksana proyek diharapkan lebih meningkatkan komunikasi dan pengamanan agar insiden serupa tidak terjadi kembali.
GABE

























