Lensabhayangkara.com Deliserdang — Wajah pelayanan hukum kembali tercoreng setelah seorang wartawan diperlakukan layaknya ancaman, bukan mitra, di Mapolresta Deliserdang pada Kamis (2/4/2026), dalam sebuah insiden yang memantik kemarahan publik.
Edo Tarigan yang datang untuk menjalankan tugas jurnalistik justru disambut dengan bentakan kasar dari oknum petugas Provos di pos penjagaan.
Identitas sebagai jurnalis tidak dihargai, bahkan setelah diperkenalkan secara jelas, sikap arogan tetap ditunjukkan tanpa kendali.
Lebih jauh, tindakan meludah saat berbicara menjadi bukti nyata runtuhnya etika dalam pelayanan publik yang seharusnya dijunjung tinggi.
Petugas lain yang berada di lokasi hanya menjadi penonton tanpa upaya meredam situasi yang semakin memanas.
Dalam kondisi yang tidak aman tersebut, Edo memilih mundur dan meninggalkan lokasi demi keselamatan dirinya.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras terhadap sistem pengawasan internal kepolisian yang dinilai lemah.
Diamnya pihak Propam hingga kini menambah panjang daftar pertanyaan publik terhadap komitmen penegakan disiplin di tubuh institusi tersebut.

























