Medan — Kemarahan masyarakat Gang Pantai Kelambir Lima, kian memuncak akibat beredarnya konten media sosial yang menyebarkan berita hoaks adanya peredaran narkoba untuk menjelek-jelekkan nama kampung mereka.
Di saat masyarakat tengah berjibaku memulihkan kehidupan pasca bencana banjir, unggahan bernada fitnah itu dinilai tidak berperikemanusiaan karena menambah penderitaan psikologis warga yang sudah terdampak berat.
Alih-alih menghadirkan empati dan informasi yang membangun, akun media sosial tersebut justru mendaur ulang cerita lama yang tidak berdasar dengan menuding adanya peredaran narkoba di wilayah Gang Pantai.
Warga menegaskan tudingan tersebut adalah fitnah, menyesatkan publik, serta mencoreng nama baik lingkungan yang kini fokus pada pemulihan rumah, pendidikan anak, dan ekonomi keluarga.
“Mestinya media sosial menjadi sarana solidaritas, bukan ajang sensasi. Kami sedang membersihkan lumpur, memperbaiki rumah, dan berjuang kembali normal. Tapi ada pihak yang memilih menyebar kabar bohong demi perhatian,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Menurutnya, narasi hoaks memperkuat stigma negatif dan berpotensi menghambat datangnya bantuan serta dukungan publik.
Atas kondisi itu, masyarakat secara tegas meminta pihak kepolisian untuk bertindak dan menangkap pelaku penyebaran berita hoaks tersebut.
Warga mendesak aparat menelusuri akun penyebar fitnah, menindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku, dan memberikan efek jera agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami minta perlindungan hukum. Jangan biarkan kebohongan memperparah trauma warga korban banjir,” tegas perwakilan warga.
Sejumlah pemuda dan relawan yang terlibat dalam aksi gotong royong menyatakan komitmen menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.
Mereka mengajak publik untuk tidak mudah percaya pada konten sensasional, serta mendorong penggunaan media sosial secara bertanggung jawab dengan mengedepankan verifikasi dan empati.
Warga juga berharap platform digital memperketat moderasi konten menyesatkan. Bagi masyarakat Gang Pantai, dukungan nyata dan informasi yang benar adalah kunci pemulihan yang bermartabat—bukan fitnah yang melukai rasa keadilan dan kemanusiaan.(red)

























