Rawat Ingatan, Tegakkan Keadilan: Rafly Serukan September Hitam Berlangsung Damai

LENSA BHAYANGKARA

Kamis, 10 September 2026 - 13:14

5060 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Momentum September Hitam kembali menjadi ruang refleksi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk merawat ingatan kolektif terhadap berbagai persoalan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) sekaligus mendorong negara agar terus memperkuat komitmen terhadap demokrasi dan keadilan.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Rafly Jatilukito, Sekretaris Jenderal Basecamp Demokrasi sekaligus tokoh senior di komunitas pelajar, melalui keterangannya, Kamis (10/9).

Ia menegaskan bahwa, mengingat sejarah bukan berarti membuka kembali luka untuk menciptakan permusuhan, melainkan menjadi bagian dari upaya memastikan tragedi kemanusiaan tidak kembali terulang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Perjuangan mengingat sejarah bukanlah upaya untuk membuka kembali luka demi menciptakan permusuhan, melainkan ikhtiar untuk memastikan bahwa tragedi kemanusiaan tidak kembali berulang,” ujar Rafly.

Menurut Rafly, negara perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap berbagai persoalan pelanggaran HAM, membuka ruang transparansi, serta memastikan setiap proses hukum berjalan secara independen dan berkeadilan.

Keadilan bagi korban, kata dia, bukan hanya persoalan moral, tetapi juga merupakan tanggung jawab negara terhadap warga negaranya.

Rafly juga menilai, demokrasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai kebebasan menyampaikan pendapat. Demokrasi harus diwujudkan melalui keberanian negara untuk mendengar kritik dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi dalam memperbaiki kebijakan.

“Kritik terhadap pemerintah, aparat, maupun institusi negara merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis selama disampaikan berdasarkan data, argumentasi, dan kepentingan publik,” katanya.

Karena itu, ia menyerukan agar seluruh pihak mengedepankan dialog, keterbukaan, dan mekanisme hukum dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang menyangkut hak-hak masyarakat. Pendekatan represif, menurutnya, tidak seharusnya menjadi pilihan dalam menghadapi kritik dan perbedaan pendapat.

Lebih lanjut, Rafly menyebut, September Hitam harus menjadi momentum bagi generasi muda untuk membangun kesadaran kritis terhadap perjalanan bangsa.

Ia menolak segala bentuk pengaburan sejarah, pembungkaman suara korban, maupun politisasi penderitaan manusia untuk kepentingan kelompok tertentu. Namun, perjuangan tersebut harus tetap dilakukan dalam koridor etika, hukum dan kemanusiaan.

“Kami percaya bahwa suara yang lantang tidak harus diwujudkan melalui kekerasan. Keteguhan sikap justru dapat ditunjukkan melalui argumentasi yang kuat, disiplin massa, dan aksi yang tertib,” tegasnya.

Rafly mengajak seluruh peserta aksi September Hitam untuk menjadikan momentum tersebut sebagai ruang refleksi sekaligus konsolidasi moral dalam memperjuangkan Indonesia yang lebih demokratis, adil dan menghormati HAM.

Ia menegaskan tiga hal utama yang menjadi pesan dalam momentum tersebut, yakni kebenaran harus dibuka, keadilan harus ditegakkan, dan negara harus memastikan adanya jaminan agar pelanggaran HAM tidak kembali terulang.

“Kami menyerukan kepada seluruh peserta aksi untuk menjaga perjuangan ini tetap damai, kritis, tertib, dan bermartabat. Perjuangan yang besar tidak membutuhkan kerusakan untuk membuktikan keberaniannya,” pungkas Rafly. (Red).

Berita Terkait

Bersama LUKW Unitomo, SWI Cetak Wartawan Kompeten melalui UKW di Banjarmasin
Alat Berat Masuk Kawasan Konservasi, PETI Kerinci Bukan Aktivitas Tradisional Melainkan Kejahatan Terorganisir
Edi Suprapto: Kemitraan Media Harus Transparan, Objektif dan Memberi Ruang yang Sama bagi Seluruh Media
Wartawan dan Organisasi Pers Bahas Implikasi RUU Perampasan Aset dalam Seminar SWI
Semangat Kemerdekaan Satukan Warga Babakan Talang ,  Karang Taruna RW 02 Desa Bojongkoneng Gelar Pesta Rakyat Penuh Kebersamaan
Kolaborasi, Kompetensi, dan Konsolidasi: Langkah Strategis SWI Membangun Pers Berkualitas
Mabes Polri dan Pusdokkes Beri Layanan Kesehatan Gratis untuk Pengemudi Ojol
**APH Didesak Tindak Tegas Pemain Getah Ilegal di Gayo Lues, Negara Dirugikan** 

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:22

Polres Pelabuhan Makassar Ungkap 8 Kasus Pencurian di Ujung Tanah

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:57

Puncak Perayaan HUT Ke-27 Malinau: Pesta Budaya Irau Ke-12 Sukses Meriah dan Memukau

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:13

DPW KJNI Sejumlah Provinsi Sampaikan Apresiasi, Arul Tekankan Persatuan dan Integritas

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:00

Rapat Paripurna HUT ke-14 Kaltara: Ekonomi Tumbuh 5,09 Persen, Pemprov Raih WTP 12 Kali Berturut-turut

Jumat, 16 Oktober 2026 - 18:50

Modus Suara Mirip dan Foto WhatsApp, Gubernur Kaltara Imbau Waspadai Penipuan Siber Lintas Wilayah

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:44

KAKI Jatim Sarankan Presiden Prabowo Pertimbangkan Dewan Pertimbangan yang Dinilai Hanya Habiskan Anggaran Negara 

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:18

KAKI Jatim: Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto Tunjuk Irjenpol Dekananto Eko Purnomo Sebagai Kapolda Jawa Timur

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 21:43

Kasat Lantas AKP Abdul Malik Pimpin Pengaturan Arus, Keselamatan Penumpang Pelabuhan Soekarno Hatta Jadi Prioritas

Berita Terbaru