Sentuhan Teknologi Hijau UNHAS di Bulukumba: Sulap Air Kelapa Jadi Penyubur Bawang Merah

REDAKSI SULSEL

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:04

5088 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LENSABHAYANGKARA.COM, BULUKUMBA – Universitas Hasanuddin (UNHAS) kembali membuktikan kepedulian nyatanya dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus memberdayakan warga lokal. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), UNHAS menggelar kegiatan bertajuk “Penguatan Kapasitas Kelompok Wanita Tani melalui Budidaya Bawang Merah Pekarangan Berbasis Biostimulan Air Kelapa di Desa Bontolohe, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba”.

 

Aksi sosial yang bergulir sejak Mei hingga November 2026 ini disokong penuh oleh pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNHAS. Langkah ini menjadi wujud nyata kontribusi kampus dalam menyebarluaskan inovasi ilmiah demi mendongkrak kesejahteraan masyarakat di akar rumput.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Agenda strategis ini dinakhodai oleh Prof. Dr. Ir. Fachirah Ulfa, MP, dengan diperkuat oleh jajaran pakar lainnya, yakni Prof. Dr. Ir. Elkawakib Syam, Dr. Ir. Vien Sartika Dewi, M.Si, dan Dr. Ir. Heliawaty, M.Si. Tak hanya para dosen, program ini juga memboyong mahasiswa UNHAS, Ahmad Dzaky Mubarak, yang aktif mendampingi warga dalam setiap sesi praktik di lapangan.

 

Adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Masumange Desa Bontolohe yang digandeng sebagai mitra. Selama ini, para anggotanya memiliki lahan pekarangan rumah yang cukup luas namun belum dikelola secara produktif untuk menopang dapur atau dompet keluarga. Celah inilah yang mendorong tim UNHAS untuk membagikan teknik budidaya yang praktis, murah, dan aplikatif.

 

Kepada awak media pada Sabtu (20/6/2026), Ketua Tim Pengabdian, Prof. Fachirah Ulfa, menekankan bahwa pekarangan rumah sebenarnya menyimpan potensi besar sebagai benteng ketahanan pangan keluarga, khususnya di era saat lahan produktif kian menyusut dan harga pangan terus bergejolak.

 

“Jika dikelola dengan cerdas, pekarangan bukan cuma bisa memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari, tapi juga berpotensi jadi sumber penghasilan tambahan. Di sini, kami mengajak warga memanfaatkan potensi lokal yang melimpah dan murah, yaitu menyuburkan tanaman bawang merah lewat formula biostimulan dari air kelapa,” tutur akademisi yang juga merupakan alumni SMA Negeri 1 angkatan 1982 tersebut.

 

Pada hari pertama, antusiasme peserta langsung dipicu lewat pembekalan materi. Mereka diajak memahami cara memaksimalkan fungsi pekarangan, teknik menanam bawang merah menggunakan media polybag, strategi menghalau hama dan penyakit, hingga analisis peluang bisnis tani berskala rumah tangga.

 

Suasana semakin seru saat memasuki agenda berikutnya, yaitu pelatihan pembuatan biostimulan dari fermentasi air kelapa yang berfungsi sebagai vitamin penumbuh alami. Usai menguasai rumusnya, para ibu tani ini langsung mempraktikkan cara menanam bibit bawang merah ke dalam polybag yang diproyeksikan sebagai model percontohan di rumah mereka.

 

Prof. Fachirah Ulfa menambahkan, dalam sesi simulasi tersebut, Ahmad Dzaky Mubarak selaku perwakilan mahasiswa cekatan memandu emak-emak KWT mulai dari mengolah ramuan fermentasi air kelapa, meracik media tanam, hingga teknik menancapkan bibit yang benar. Keterlibatan mahasiswa ini menjadi esensi dari tridarma perguruan tinggi sekaligus memberikan ruang belajar nyata di tengah masyarakat.

 

Berdasarkan kajian tim ahli UNHAS, memilih air kelapa sebagai biostimulan adalah terobosan cerdas yang ramah lingkungan sekaligus hemat biaya. Air kelapa yang kerap dibuang percuma terbukti kaya akan hormon pertumbuhan alami dan nutrisi esensial yang mampu mempercepat serta menyuburkan tanaman hortikultura, termasuk komoditas bawang merah.

 

Lewat program jangka panjang ini, para anggota KWT diharapkan tidak hanya membawa pulang ilmu dan keterampilan baru, tetapi juga mampu menciptakan kawasan percontohan (demplot) tanaman bawang merah di lingkungan mereka, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya memanfaatkan bahan-bahan lokal demi ketahanan pangan mandiri.

 

Bukan sekadar memberi dampak instan bagi warga Desa Bontolohe, program PKM ini juga ditargetkan menelurkan berbagai output akademik dan publikasi. Di antaranya meliputi jurnal ilmiah, rilis media massa, video dokumentasi, poster edukasi, hingga cetak biru (blueprint) model pemberdayaan masyarakat berbasis biostimulan air kelapa.

 

“Melalui metode yang mengedepankan partisipasi aktif warga dan ditopang oleh riset ilmiah, Universitas Hasanuddin optimis program ini dapat menjadi pemantik serta contoh nyata bagaimana halaman rumah bisa diubah menjadi sumber pangan mandiri, pendongkrak ekonomi, dan pilar pembangunan desa yang berkelanjutan,” pungkasnya optimis. (*)

Berita Terkait

Polres Pelabuhan Makassar Ungkap 8 Kasus Pencurian di Ujung Tanah
Puncak Perayaan HUT Ke-27 Malinau: Pesta Budaya Irau Ke-12 Sukses Meriah dan Memukau
DPW KJNI Sejumlah Provinsi Sampaikan Apresiasi, Arul Tekankan Persatuan dan Integritas
Rapat Paripurna HUT ke-14 Kaltara: Ekonomi Tumbuh 5,09 Persen, Pemprov Raih WTP 12 Kali Berturut-turut
Modus Suara Mirip dan Foto WhatsApp, Gubernur Kaltara Imbau Waspadai Penipuan Siber Lintas Wilayah
KAKI Jatim Sarankan Presiden Prabowo Pertimbangkan Dewan Pertimbangan yang Dinilai Hanya Habiskan Anggaran Negara 
KAKI Jatim: Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto Tunjuk Irjenpol Dekananto Eko Purnomo Sebagai Kapolda Jawa Timur
Kasat Lantas AKP Abdul Malik Pimpin Pengaturan Arus, Keselamatan Penumpang Pelabuhan Soekarno Hatta Jadi Prioritas

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 02:47

Ketika Tenda Warga Dibakar di Geumpang, Dugaan Tambang Berbasis Modal Asing Justru Memunculkan Misteri Baru

Selasa, 22 September 2026 - 00:18

Konflik Membara Di Peti Geumpang , DLH Pidie Klaim Cek Air & Tanah, Amat Tong Red Tantang Balik: “Bek Pegot-Pegot Abah Bagai Siuro Sepot! Itu Tambang China, Kami Warga Geumpang Dilarang Kerja

Senin, 21 September 2026 - 05:53

133 Alat Berat Disorot, Setoran Rp32 Juta per Unit per Bulan Diduga Jadi Aliran Uang di Balik Tambang Emas Ilegal Geumpang

Selasa, 15 September 2026 - 02:09

Tambang Emas Ilegal Geumpang Pidie Makin Masif, Alat Berat Terus Menggerus Kawasan, LLA Akan Laporkan Dugaan Pelanggaran ke Polda Aceh

Berita Terbaru