Karo β Semangat juang seorang wakil rakyat dalam memperjuangkan kehendak masyarakat kembali tampak dalam sosok Dra. Lusia Sukatendel, Nsp., yang turun langsung ke tengah warga Tanah Karo dalam aksi moral menentang maraknya permasalahan sosial. Diwarnai teriknya matahari yang menyengat, kehadiran legislator perempuan ini menjadi pemandangan berbeda di jalanan. Ia berdiri bersama masyarakat, menyuarakan keprihatinan mendalam akan tingginya angka penyalahgunaan narkoba, praktik perjudian, serta tumbuh suburnya prostitusi yang menggerus tatanan sosial di daerah tersebut.
Langkah tersebut dianggap sebagai bentuk nyata kehadiran seorang wakil rakyat, bukan sekadar menjalankan tugas formal di lembaga legislatif, tetapi juga menunjukkan keberpihakan langsung terhadap suara-suara kecil yang selama ini jarang terdengar. Menurut Lusia, berbagai penyakit sosial yang kini menjangkiti Tanah Karo tidak hanya menjadi masalah hukum, tetapi lebih jauh merupakan krisis moral yang harus segera ditangani dengan pendekatan menyeluruh, mulai dari edukasi keluarga hingga penegakan hukum yang tegas.
Aksi moral yang diikuti ratusan warga lintas generasi ini disebut menjadi refleksi kuat bahwa masyarakat tidak hanya menginginkan perubahan, tetapi siap terlibat aktif dalam perjuangan bersama. Lusia pun menegaskan bahwa perjuangan ini lahir dari kesadaran bersama timbulnya keprihatinan mendalam akan masa depan generasi muda Tanah Karo yang terancam jika masalah tersebut dibiarkan berlarut-larut. Ia berharap kolaborasi berbagai pihak, mulai dari elemen pemerintah, tokoh adat, pemuka agama, hingga generasi muda, mampu menciptakan kekuatan sosial yang bergerak serentak untuk memulihkan kembali nilai-nilai luhur budaya Karo sebagai landasan pembangunan peradaban.
Gerakan ini juga mendapat sambutan luas dari elemen masyarakat lainnya. Sejumlah tokoh menyatakan bahwa kehadiran langsung seorang anggota dewan dalam aksi masyarakat memberikan harapan baru atas sinergi antara legislatif dan konstituen. Tidak sedikit yang menilai, langkah Lusia Sukatendel menjadi pesan kuat di tengah keprihatinan publik terhadap maraknya praktik penyimpangan sosial yang semakin mengikis solidaritas dan keamanan lingkungan.
Meski demikian, perjuangan ini tentu tidak tanpa tantangan. Ia menyadari bahwa perubahan bukan hal yang instan. Diperlukan keberlanjutan gerakan, konsistensi sikap, dan tekanan publik yang terus terjaga agar pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum tidak tinggal diam. Menurutnya, pemberantasan masalah sosial ini juga harus dibarengi dengan pendekatan humanis, agar masyarakat bukan hanya takut terhadap hukum, tetapi juga sadar akan pentingnya menjaga kehormatan dan masa depan kampung halaman mereka sendiri.
Dalam semangat yang ia kobarkan, Lusia tidak hanya tampil dalam simbol perlawanan, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dengan pemangku kepentingan lainnya. Ia menggarisbawahi bahwa permasalahan sosial bukan hanya soal pengawasan dan tindakan represif, tetapi tentang bagaimana membangun mentalitas baru yang berakar kuat pada nilai budaya, pendidikan yang bermoral, serta lingkungan yang sehat.
Masyarakat kini menanti langkah-langkah lanjutan yang konkret dari berbagai pihak terkait. Satu suara menjadi gema yang diperkuat oleh suara-suara lain, agar cita-cita bersama untuk mewujudkan Tanah Karo yang bersih, aman, dan bermartabat bukan hanya sekadar wacana, tapi benar-benar menjadi fondasi masa depan. Apa yang dilakukan Dra. Lusia Sukatendel menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu dimulai dari gedung parlemen, tapi seringkali lahir di tengah peluh masyarakat yang ingin didengar. Sebuah langkah kecil di jalanan, bisa menjadi awal dari perubahan besar yang bermuara pada kehidupan sosial yang lebih baik. (Gabe)

























